Tuesday, March 25, 2014

Filsafat & Teologi halaman 21-30

Filsafat dan Teologi (hal 21-30)
Seperti agustirus, anselmus tidak membedakan secara jelas bidang teologi dan filsafat. Di dalam monologium, anselmus memperkembangkan bukti adanya Allah dari tingkat tingkat kesempurnaan yang terdapat di dalam ciptaan di dalam bab 1, ia menggunakan argument tentang kebaikan, dan di dalam bab 2, argument mengenai keagungan. Sifat sifat itu terdapat di dalam macam macam tingkat dari objek pengalaman, sehingga argument berkembang dari pengamatan empiris, misalnya tingkat tingkat kebaikan makhluk. Makan proses ini merupakan pembuktian aposteriori. Tetapi penilaian mengenai taraf taraf kesempurnaa mengendaikan suatu norma kesempurnan. Kenyataan bahwa benda benda ambil bagian secara objektif di dalam kebaikan menurut tingkat tingkat yang berlainan menunjukan bahwa norma sendiri bersifat objektif, yang berarti bahwa ada suatu kebaikan absolut di mana semuahal yang baik berpartisipasi. Pembuktian yang berbau platonic ini disebut apostariori, yakni bahwa pembuktian ini tidak bergerak dari ide mengenai kebaikan absolut menuju eksistensi kebaikan absolut, melainkan dari tingkat tingkat kebaikan yang diamati secara inderawi ke eksistensi kebaikan absolut,, dan dsri tingkat tingkat kebijaksanaan empiris ke eksistensi kebijaksaan absolut. Kebaikan dan kebijaksanaan absolut diidentikan dengan Allah. Prinsipnya: bila ada objek memiliki kebaikan terbatas, mereka pasti memiliki kebaikan mereka dari kebaikan absolut sendiri, yang baik dari dirinya sendiri dan bukan berasal dari yang lalu.

Di dalam bab 3 dari monologium, anselmus menggunakan cara pembuktian yang sama. Apapun yang ada, berada ata melalui suatu yang lain atau melalu ketiadaan. Kemungkinan kedua hal adalah absurd. Maka semua yang berada atay saling mengadakan atau melalui diri mereka sendiri atau melalui satu penyebab keberadaan. Tetapi kemungkinan pertama tidak masuk akal. Maka pilihannya atau ada macam-macam sebab yang tidak disebabkan atau satu sebab tak tersebabkan. Sampai sini cukup sederhana; pembuktian melalui penyebaban. Tetapi untuk melanjutkannya, anselmus memperkenalkan suatu unsur platonic, sewaktu ia berpendapat bahwa bila ada macam macam pengada yang ada dari dirinya sendiri, maka mereka harus ambil bagian di dalam pengada utama, yang dari dirinya sendiri mengatasi dan lebih unggul dari yang lain.

Di dalam proslogium, anselmus memperkembangkan apa yang disebut ‘bukti ontologis’, yang bergerak dari ide mengenai Allah ke pengalaman mengenai Allah yang riil dan eksistensial: Allah adalah sesuatu yang terbesar, sehingga sesuatu yang lebih besar daripadaNya tidak terbayangkan. Padahal ‘sesuatu yang terbesar, sehingga sesuatu yang lebih besar daripadaNya tidak terbayangkan’ harus ada secara eksistensial di luar budi, tidak hanya sebagai ide yang berada di dalam budi. Maka Allah ada, tidak hanya sebegai ide di dalam pikiran, tetapi secara eksistensial di luar pikiran.






Pada masa hidup anselmus sendiri bukti dari proslogium sangatlah kecil pengaruhnya. Tetapi di abad XIII bukti ini digunakan oleh St. Boneventura, dengan lebih bernada psikologis daripada logis, sementara st. Thomas menolaknya. Duns scotus menggunakannya sebagai pertolongan. Di jaman modern bukti ontologis ini mempunyai karir yang istimewa. Descertas mengambil dan menyesuaikan bukti ini, Leibniz mempergunakannya secara hati hati dan bijaksana, sementara kant menyerangnya.

Pengaruh agustinus terhadap filsafat anselmus dapat dirasakan antara lain di dalam teorinya mengenai kebenaran. Bila ia berbicara mengenai kebenaran di dalam penilaian, ia mengikuti pandangan aristoteles; penilaian atau prorporsi menyatakan apa yang sesungguhnya berada atau menyangkal apa yang tidak ada; tetapi, setelah membicarakan kebenaran kehendak, anselmus meneruskan berbicara mengenai kebenaran pengada atau essensi dan menyatakan bahwa kebenaran barang barang terletak di dalam “menjadi apa menurut seharusnya”, yakni di dalam perwujudan atau kesesuaian dengan ide ide mereka di dalam Allah, sang kebenaranAgung dan norma segala kebenaran, anelmus mengikuti jejak agustinus. Demikian pula sewaktu anselmus menyimpulkan keabadian dari sebab kebenaran agung dan norma segala kebenaran, anselmus mengikuti jejak agustinus. Allah adalah kebenaran abadi dan mandiri, yang menjadi sebab dari kebenaran ontologis semua ciptaan. Kebenaran abadi adalah sebab semata mata dan kebenaran penilaian adalah akibat semata mata, sedangkan kebenaran ontologis ciptaan adalah sekaligus sebab dan akibat.

3. filsafat islam
Filsafat arab merupakan salah satu saluran utama bagi diperkanalkannya filsafat aristoteles yang komplit kepada dunia barat. Tetapi filsuf filsuf agung islam abad pertengahan, seperti Avicenna (Ibn Sina) dan averoes (Ibn Rushd), tidak hanya meneruskan atau mengomentari, tetapi mereka sendiri mengubah dan memperkembangkan filsafat aristoteles, kurang lebih menurut semangat neo-platonis, dan beberapa di amtara mereka menafsirkan aristoteles berkaitan dengan pokok pokok penting yang secara eksegatis benar atau tidak, bertentangan dengan iman dan teologi Kristen. Aristoteles yang diperkenalkan oleh averroes tentulah tidak sesuai dengan kebijasnaan atau filsafat Kristen. Maka menimbulkan pertentangan denan tradisi Kristen yang menganggap filsuf filsuf Kristen lainnya. Makan dapat dimengerti bahwa perhatian terhadap filsuf filsuf Islam oleh mereka, khususnya St. Thomas yang memandang filsafat tersebut tidak hanya sebagai suatu alat yang berharga untuk mengekspresikan dialektik teologi Kristen di dalam system asitotelianm tetapi juga memandangnya sebagai filsafat yang benar, haruslah melengkapi diri dengan bukti bahwa aristotelianisme tidak harus melibatkan Interpretasi yang diberikan olehorang-orang islam . mereka harus melepaskan diri dari Averroes dan harus membedakan Aristotelianisme mereka dari Aristotelianisme Averroes

A.           Alfarabi ( meninggal ±950)
Ia termasukmasab Baghdad. Alfarabi memperkenalkan logika Aristoteles ke dunia Islam, sedangkan ia membedakan departemen filsafat dari teologi, sehingga filsafat dipisahkan dari teologi. Filsafat terdiri dari fisika – yang didalamnyua termasuk antara lain psikologi dan epistimologi – metafisika serta atika atau filsafat praktis. Skema teologinya meliputi bagian-bagian mengenai :
1.      Kemahakuasaan dan keadilan Allah ;
2.      Kesatuan dan sebutan-sebutan lain dari Allah ;
3.      Ajaran mengenai hukuman di hidup akhirat ;
4 & 5. Mengenai hak-hak individual dan hubungan social dari orang islam

Alifarabi menggunakan bukti-bukti Aristoteles di dalam membuktikan adanya Allah. Dengan pengandaian bahwa benda-benda duniawi  digerakkan secara pasif. Suatu ide yang sesuai benar dengan teologi Islam, maka mereka pasti menerima gerakandari suatu Penggerak Pertama, yaitu Allah. Lagi, benda0benda duniawi bersifat kontingen, yang berarti tidak ada secara niscaya ; esensi mereka tidak melibatkan eksistensi mereka, sebagaimana nyata dari kenyataan bahwa mereka mulai berada dan lenyap dari peredaran. Maka mereka secara niscaya menerima eksistensi mereka, dan suatu yang utama dengan sendirinya merupakan suatu Yang Ada yang berada secara essensial, sebagai keharusan, dan merupakan sebab dari keberadaan dari semua pengada kontingen.

Tetapi sistem Alfarabi secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh filsafat neo-Platonis. Tema emanasi dipergunakan untuk memperlihatkan bagaimana dari keallahan, atau Yang Satu, muncul Inteligens dan Jiwa Dunia, dari ide muncul dunia, dari angkasa tinggi atau luar agkasa dalam (rendah).  Menurut Alfarabi benda0benda berjasad terbentuk dari materiadan forma. Inteligens manusia diterangi oleh inteligens kosmis, yang merupakan intelek manusia yang aktif. Lebih lagi, penerangan intelek manusia merupakan penjelasan bahwakonsep-konsep kita sesuai dengan bendanya,  karena ide-ide dalam Allah sekaligus merupakan exemplar dari sumber konsep di dalam budi manusia dan dari forma di dalam benda-benda.
Ajaran illuminasi ini dihubungkan, tidak hanya dengan neo-Platonisme, tetapi juga dengan mistik Timur. Alfarabi sediri erat hubungannya dengan  Sekolah mistik sekte Sufi, dan filsafatnya mempunyai orientasi keagamaan. Tugas tertinggi manusia adalah  mengenal Allah dan, sebagaimana proses keseluruhan dari semesta mengalir dari Allah, demikianlah manusia yang muncul dari Allah di dalam prosesemanasi dan yang diterangi oleh Allah. Maka manusia harus berusaha kembali dan menyerupai Allah.
B.               Avicenna ( Ibn Sina ) 980 – 1037
Filsuf terbesar dari grup Timur adalah Avicenna. Dia adalah pencipta sebenarnya dari sistem Skolastik di dunia Islam. Karya agungnya adalah As-Sifa, dikenal sebagai Sufficientiae, di abad Pertengahan, yang terdiri dari logika, fisika, matematika, psikologi dan metafisika. Meskipun dia meminjam dari Aristoteles, dan neo-Platonisme, dia memperlihatkan bentuknya sendiri yang membuat jelas bahwa dia telah memikirkan masak-masak sitemnya sendiri.
Menurut Avicenna konsep keniscayaan merupakan konsep utama, sebab menurut dia semua yang ada harus ada. Namun ada dua jenis keniscayaan : objek tertentu di dunia ini tidak niscaya dari dirinya sendiri, essensinya tidak melibatkan keniscayaan akan keberadaannya, sebagaimana nyata bahwa benda itu mempunyai awal dan akhir dari adanya. Namun benda itu pasti ada karena keberadaannya ditentukan oleh tindakan niscaya oleh sebab dari luar. Benda itu disebabkan dan bersifat ‘relatif’, tetapi tindakan dari penyebabnya ditentukan secara niscaya.
Maka rantai penyebab tidak mungkin tidak terbatas, sebab seandainya tak terbatas tidak ada alasan untuk keberadaan dari apa pun, tetapi pastilah ada penyebab pertama yang tidak tersebabkan. Pengada tidak bersebab ini, yaitu Pengada Mutlak, tidak mungkin menerima essensinya dari yang lain, dan tidak mungkin keberadaannya merupakan bagian dari essensinya. Alasannya ialah bahwa susunan dari bagian-bagian akan melibatkan sebuah sebab penyatu yang lain essensi dan eksistensi pastilah identik di dalam Pengada mutlak.
Erat dengan perbedaan antara yang mungkin dan yang mutlak adalah perbedaaan antara potensialitas dan actus. Potensialitas, sebagaimana terdapat di dalam Aristoteles, adalah prinsip dari perubahan kepada yang lain sebagai yang lain, dan prinsip ini dapat ada di dalam pelaku (potensi aktif) atau di dalam penderita (potensi pasif). Tambahan lagi ada tingkat potensu dan aktus, mulai dari yang terendah, yaitu potensi murni (materia prima) dan yang tertinggi, yaitu aktus murni (pengada mutlak). Dari sini Avicenna menunjukkan bahwa Allah adalah Kebenaran, Kebaikan, Cinta dan Hidup.
Karena Allah adalah Kebaikan Mutlak, ia secara niscaya cenderung membagikan kebaikannya, menyinarkannya, dan ini berarti bahwa ia secara niscaya mencipta. Karena Allah itu Pengada Mutlak, semua sebutan-Nya tentulah mutlak ; maka Ia adalah Pencipta. Oleh karenanya, ciptaan juga harus ada dari semula, karena kalau Allah secara niscaya harus menjadi Penciptadan Allah itu abadi, ciptaan haruslah abadi.
Tambahan lagi, kalau Alah menciptakan secara niscaya, berdasarkan kodrat-Nya, akibatnya tidak ada pilihan bebeas di dalam penciptaan. Dengan kata lain, Allah tidak dapat menciptakan lain atau menciptakan benda-benda lain dari pada yang sungguh-sungguh Ia ciptakan. Tetapi Allah hanya dapat menghasilkan langsung pengada seperti diri-Nya sendiri; tidak mungkinlahbahwa Ia menciptakan benda-benda materiil secara langsung. Secara logis pengada pertama yang muncul dari Allah adalah Inteligens pertama. Inteligens ini diciptakan dalam arti bahwa ia muncul dari Allah: ia menerima keberadaanya, dan dengan demikian mulailah dualitas. Antara yang satu dengan dirinya.
Sementara di dalam Yang Satu tidak ada dualitas, di dalam Inteligens pertama ada dualitas antara essensi dan eksistensi, sejauh eksistensi itu diterima, dan juga ada dualitas pengetahuan, sejauh Inteligens pertama tahu bahwa Yang Satu atau Allah itu mutlak, sedangkan dirinya ‘mungkin’. Avicenna menyimpulkan adanya 10 Inteligensantara kesatuan Allah dan bermacamnya ciptaan. Inteligens kesepulah adalah “pemberi forma/bentuk”, yang diterima dari materia prima, potensialitas murni, sehingga pelipatgandaan di dalam satu species mungkin. Inteligens yang terpisah dapat berbeda satu sama lain hanya berdasarkan speciesnya, berkat kedekatan atau kejauhan dari Yang Satu dan semakin kurang utuhnya di dalam proses essensi.
Ide Avicenna mengenai penciptaan secara niscaya dan penyangkaannya bahwa Yang Satu mempunyai pengetahuan langsung akan bermacam-macam objek konkret bertentangan dengan teologi Qur’an. Tetapi ia berusaha sedapat mungkin mendamaikan sistemnya yang Aristotelism dan neo-Platonis dengan ajaran ortodox Islam. Misalnya, ia tidak menyangkal kehidupan kekal jiwa manusia, sekalipun ajarannya tentang keterpisahan intelek aktif. Dan ia menafsirkan secara intelektualitis: imbalan berupa pengetahuan akan objek-objek yang melulu terselamai, hukuman adalah peniadaan pengetahuan.
Ketika bagian-bagian tulisan Avicenna diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di abad keduabelas, dunia Kristen menemukan dirinya dihadapkan untuk pertama kalinya dengan suatu sistem  yang tersusun rapih, yang tentu saja menarik perhatian.
C.          Avveroes ( Ibn  Rushd ) 1126 -1198
Dia menyusun komentar mengenai Aristoteles. Komentar-komentarnya dapat dikelompokkan :
1.      Komentar tengah: Averroes memberikan isi dari ajaran Aristoteles, sambil menambahkan penjelasan dan memperkembangkannya sedemikian rupa, sehingga tidak selalu mudah untuk membedakan mana yang berasal dari Aristoteles dan mana dirinya.
2.      Komentar yang lebih besar: memberikan teks asli Aristotelesdan memberinya komentar.
3.      Komentar kecil; memberikan kesimpulan dari penalaran Aristoteles dan menghilangkan pembuktian-pembuktiannya dan sumber-sumber historis, dengan tujuan mahasiswanya  tidak dapat menelusuri sumber-sumbernya atau komentar-komentar yang lebih besar.
    Jangkauan metafisik meliputi bahan dari material murni sebagai batas terendah sampai Aktus murni, yaitu Allah sebagai batas tertinggi, dab du abtara keduanya terdapat objek-objek yang terbentuk dari potensi dan aktus. Materi prima, yang sejajar dengan ketiadaan, sebagai potensi murni dan tanoa ketentuan, bukanlah sifat aktus kreatif: maka harus seabdi dengan Allah. Allah menarik ata memuncilkan forma dari benda benda materiil dari potensi material murni, dan menciptakan 10 inteligens, yang secara ekstrinsik dihubungkan dengan angkasa-angkasa, sehingga teori emanasi Avicenna dihindari dan pantheismo murni dikesampingkan.
    Tetapi ia tidak menerima kehidupan kekal individual. Averros berpendapat bahwa intellectus material (pasif) adalah substansi yang sama dengan intelektual agens (aktif), dan keduanya tidak musnah dalam kematian, tetapi substansi ini merupakan suatu inteligens tersendiri dan terpisah. Intelek pasif individual di dalam masing masing manusia, berkat kegiatan intelek aktif, ‘menjadi intelek yang dicapai’, yang dihisiap oleh intelek aktif sedemikian rupa, sehingga meski tidak terkna kematian badan, kehidupan setelah kematiannya bukanlah eksistensi individual, melainkan sebagai unsure di dalam intelligence umat manusia yang sifatnya umum.
    Lebih menarik lagi adalah ajaran Averroes mengenai hubungan filsafat dan teologi. Ia mencoba mendamaikan keduanya dengan aa yang disebut teori kebenaran ganda. Suatu keberadaan yang sama dapat dimengerti dengan jelas di dalam filsafat dan dinyatakan secara kiasan di dalam teologi. Perumusan ilmiah dari kebenaran tercapai hanya di dalam filsafat, sedangkan kebenaran yang sama dinyatakan di dalam teologi denganc cara yang berbeda. Ajaran dengan kiasan dari Qur’an menyatakam kebenaran dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang biasa, orang yang tak terpelajar, sedangkan filsuf menelanjangi kulit allegoris dan mencapai kebenaran aslinya. Yang dilakukan oleh Averroes adalah meletakan teologi di bawah filsafat dan filsafat menilai teologi, sehingga filsuflah yang memutuskan ajaran teologis mana yang perlu ditafsirkan secara allegoris dan dengan cara bagaimana.

4. Filsafat Yahudi

A. Avicebron (Salomon Ibn Gabirol) 1021 – 1069/70
    Karya utamanya adalah Fons Vitas, yang aslinya berbahasa Arab (hilang). Karyanya ini terdiri dari lima buku dan mempunyai pengaruh besar terhadap Skolastik Kristen. Pengaruh neo – Platonism nyata di dalam skemanya yang bersifat emansionis. Puncak dari hirarki pengada dan sumber dari segala pengada terbatas adalah Allah yang satu dan tidak dapat difahami di dalam intuisi ekstase. Avucebron menambahkan ajaran mengenai kehendak ilahi, yang olehnya semua oengada lebih rendah diciptakan, atau dari mana mereka muncul.  Kehendak ilahi, seperti halnya Allah sendiri, mengatasi susunan material dan forma, dan dapat difahami hanya di dalam pengalaman mistik. Tetapi hubungan Allah dan kehendak ilahi tidak mudah ditentukan. Dari Allah, melalui kehendak ilahi (logos), entah Allah dari satu aspek atau sebagai suatu hypostesis disting, munculah roh kosmis atau Jiwa Dunia, yang lebih rendah dari Allah dan terdiri daru material dan forma, material universals dan forma universalis. Dari Jiwa Dunia muncullah roh0roh murni dan benda benda wedag.
     
    Yang lebih menarik adalah ajarannya mengenai persatuan hylomorphis universal di dalam semua pengada di bawah Allah. Ajaran ini secara tidak langsung ditarik dari Plotirus dan memperngaruhi satu tradisi Skolastik Kristen. Sebagaimana dari JIwa Dunia muncil forma forma individual, demikian juga dari Jiwa Dunia muncil material spiritual, yang hadir di dalam Inteligens dan di dalam jiwa rasonal, dan material badani. Materia yang tidak dari dirinya sendiri melibatkan kejasadan, merupakan prisnsip dari pembatasan dan keterbatasan di dalam semua makhluk: maka susunan hylomorhik lah yang membedakan ciptaan dari Allah, karena di dalam Allah tidak ada senyawa. Ajaran tentang senyawa hylomorphik universal di dalam makhluk ini ditekanan oleh St. Bonaventura juga.
    
    Tambahan lagi, terdapat pluralitas dai tingkat tingkat kesempurnaan, misalnya manusia, mikrokosmos, mempunyai kesempurnaan raga, kehidupan vegetative, kehidupan sensitive dan kehidupan intelektual. Setiap pengada ragawi mempunyai forma ragawi, tetapi masih harus ditentukan lebih lanjut tempat khusunya di dalam horarki pengada. Penempatan ini terjadi dengan penerimaan forma dari forma forma yang menentukannya, misalnya benda hidup, binatang, anjing. Ajaran Avicebron benar benar merupakan asal dari teori Sekolah Agustinian mengenai pluralitas forma, tetapu harus diingat bahwa  ajaran ini cocok dengan skema filsafat Agustinian, sebab Agustinus sendri telah menagajrakan bahwa fungsi forma forma lebih rendah ialah untuk mengantar kepada forma forma lebih tinggi sebagaimana tercerminkan di dalam pengetahuan manusia, yaitu bahwa kontemplasi mengenai taraf taraf lebih renda harus mengantar jiwa jiwa ke taraf taraf yang lebih tinggi.

B. Moses Maimonides 1135 – 1204
    Di dalam Guide of the Doubting, Maimonides mencoba memberi dasar rasional teologi di dalam filsafatnya, yang adalah filsafat Aristoteles. Kita harus pegang teguh apa yang diberikan kepada kita di dalam persepsi inderawi dan apa yang dinalarkan secara ketat oleh intelek: Jika pernyataan dalam perjanjian lama jelas jelas bertentangan dengan apa yang dinalarkan aksi, maka pernyataan itu harus ditafsirkan secara allegoris. Namun tidak berarti bahwa Maimonides membuang ajaran teologi bilamana tidak ada kesesuaian dengan ajaran Aristoteles. Misalnya, teologi mengaharkan penciptaam dunia di dalam waktu dari ketiadaan, yang berarti bahwa Allah haruslah menciptakn material dan forma, dan bahwa dunia tidak mungkin abadi. Bila keadaan dunia dapat ditunjukan oleh akal sedemikian rupa sehingga apa yang bertentangan jelas tidak mungkin, maka kita harus menginterpretasikan Kitab Suci sesuai dengannya. Tapi kenyataannya ajaran Kitab Suci begtu jelas dan dasar dasar filosofis untuk membuuktikan kabadian dunia tidak konklusif; maka kita harus menolak ajaran Aristoteles dalam hal ini.
    Mengandalkan sebagian pada teologi natural Alfarabu dan Avicenna, Maimonedes membuktikan adanya Allah dnegan macam macam jalan, beragumentasi dari ciptaan Allah sebgai Penggerak pertama, sebagai Pengada nutlak dan sebagai Sebab pertama. Argumen ini dia dasarkan pada pernyataan Aristoteles di dalam Physia dan Metaphysica. Tetapi jika Maimonedes mengantsipasi sebagian besar dari macam-macam bukti St. Thomas, ia lebih menekankanpada sebutan sebutan positif yang tidak dapat diterapkan kepada Allah.
    Tidak seperti Avicebron, Maimonedes member tempat kepada prvidensia khusu kepada Allah berkaitan dengan makhkuk khusus, meskipun ini hanya berlaku bagi manusia, sejauh menyangkut dunia materil. Intelligens kesepuuluh adalah intelek aktif, sedangjan intelek intelek pasif dari orang orang individual dan benar akan hidup kekal. Jadi kehidupan kekal hanya berlaju bagi orang benar. Maimonedes mepertahankan kebebasan yang memungkinkan orang bisa menjadi benar. Ia menilaj pengaruh benda benda langit dan angkasa yang seirng dainggap menentukan tindakan manusia.


III.JAMAN KEEMASAN ABAD PERTENGAHAN: ABAD XIII
    
    Semua teolog dan filsuf abad  XIII mempunyai huubungan erat dengan universitas Pairs. Alexander dari Hales, St. Bonaventura, St. Albertus Agung, St. Thomas Aquinas. Matthew dari Aquasparta, Roger Marston, Richard dari Middleton, Roger Bacon, Giles dari Roma, Siger dari Brabant, Henry dari Gent, Raymon Lull, Duns Scotus, atau belajar mengajar atau dua duanya di Paris.
    Tetapi ousat pusat pendidikan lain juga berkembang dan menjadi penting. Misalnya, Unibersitas Oxford dihubungkan dengan nama nama seperti Robert Grossteste, Roger bacon dan Duns Scotus. Sementara Paris merupakan kubu pertahanan tradisi Aristotelianisme, Oxfor ditandai denganc ampuran antara Agustinaian dan Empiricsm. Namun, meskipun kedudukan Oxford, bologna dan Papal Court cukup penting, Universitas Paris merupakan pusat terpenting dari pendidikan tinggi di dunia Kristen pada abad XIII. Para ilmuwan, yang dating ke Paris untuk studi dan kembali ke Oxford atau Bologna untuk mengajar, membawa kembali semangat dan cita cita Universitas Paris. Bahkan ilmuwan yang tidak pernah dating ke Paris, menerima kewibawaan universitas ini.

Sifat international dari universitas paris, dengan kedudukan pentingnya di dalam ajaran dan pembelan terhadap kristianitas, membuat tahta suci sangat berminat untuk memperhatikan pelestarian ortodotaksi religious dikampus ini. Maka pertikaian mengenai averroisme harus disoroti daro posisi international universitas ini: universitas paris mewakili kebudayaan intelektual dari abad pertengahan, sejauh berhubungan dengan filsafat dan teologi. Penyevaran suatu sistem yang tidak dapat didamaikan dengan kristiaritas tidak bisa didiamkan saja oleh roma. Sebaliknya, tidak tepatlah untuk menyimpulkan bahwa salah satu tradisi ditetapkan untuk diikuti disini. Memang benar bahwa St. Thomas mengalami banyak kesulitan karena menerima dan memperkembangkan Aristotelesme. Tetapi kesulitan-kesulitan seperti itu tidak berlangsung lama. Bahkan sewakru filsafat Aristoteles mendominasi kehidupan inteelektual universitas ini, pada abad XIII dan XIV tetaplah memberi ruang bagi macam-macam pandangan filosofis.


1.        St. Bonaventura 1221 – 1274

St. Bonaventura, Giovanni Fidanza, lahir di bagnorea, tuscary, pada tahun 1221. Sewaktu kanak-kanank dia sakit, dan melaluli doa ibunya dengan peantaraan St. Fransiskus Assisi, dia disembuhkan. Maka dia masuk ordo frensiskan kira-kira tahun 1240. Ia belajar di bawah bimbingan alexander dari hsles. Rupanya ajaran alexander begitu mempengaruhi Bonaventura, sebab didalam praelocutio prooemio in secundum librum sententriarum praemissa Bonaventura menyatakan bahwa mulai dengan buku pertama dari sentenoes ia telah merangkul pendapat umum para gurunya, terutama pendapat-pendapat “guru dan bapa kita saudara alexander yang telah tiada”. Jelaslah bahwa Bonaventura relah dirasuki oleh tradisi fransiskan, i.e. agustian dan oa bermaksud merusaknya.

A. Eksistansi Allah

St. Bonaventura, seperti St. Agustin, pada dasarnya tertarik pada hubungan jiwa Allah. Minat dasar ini mempunyai pengaruh atas pengolahannya mengenai bukti-bukti adanya Allah. Ia terutama bermaksud untuj menunjukan bukti-bukti sebagai tahap-tahap bagi perjalananan naik jiwa menuju Allah. Perlu disadari bahwa Allah yang akan dibuktikan bukanlah melulu suatu prinsip abstarak dari penegtahuan, tetapi Allah dari kesadaran Kristen, Allah kepada siapapun manusia berdosa.
Maka Bonaventura lebih menekankan bukti-bukti dari dalam daripada bukti-bukti dari luar, yaitu bukti-bukti dari dunia materiil. Memang Bonaventura juga membuktikan adanya Allah berdasar dunia inderawi, dan ia menunjukkan bagaimana penegtahuan mengenai pengada-pengada yang terbatas, tidak smepurna, komposit, bergerak dan kontingan, manusia dapat mencapai pengertian mengenai Pengada yang tek terbatas, sempurna, tunggal, tidak berubah dan niscaya.
Bonaventura tidak pernah menyangkal sedikit pun bahwa eksistansi Allah dapat dinuktikan dari ciptaan: sebaliknya ia menegaskannya. Di dalam komentarnya mengenai sentoces ia menyatakan bahwa Allah daoat diketahui melalui ciptaan sebagai penyebab melalui akibat. Cara berfikir demikian, menurut Bonaventura, adalah umum bagi manusia sejauh bagi kita benda-benda merupakan sarana kita untuk sampai kepada pengetahuanmengenai “intelligibilia”, yaitu objek-objek yang mengatasi indera.Di dalam In Haxaemaron, Bonaventura berargumentasi bahwa bila ada pengada yang dihasilkan, pasri ada pengada pertama, sebab hatus ada suatu sebab: jika ada pengada ab alio, harus ada pengada a se; bila ada pengada komposit, harus ada pengada simpleks; bila ada pengada yang dapat berubah, harus ada pengada yang tak berubah.
Mirip dengan itu adalah suatu seri bukti-bukti, di dalam de mysterio trintitas, untuk menunjukkan bagaimana penciptaan dengan jelas menyatakan eksistansi Allah. Misalnya, bila ada en sab alio, pasti ada ens on ab alio, karena tidak ada suatu pun yang dapat memnindahkan dirinya dari keadaan tidak ada dan ada, dan akhirnya harus ada suatu pengada pertama yang ada dari dirinya sendiri. Lagi, bila ada ens possibile, pengada yang dapat ada dan dapat tidak adam harusnya ada ens necessarium, pengada uang tidak mungkin tidak ada, sebab hal ini penting untuk menjelaskan munculnya pengada yang hanya mungkin menjadi benar-benar ada; dan bila ada ens in poteria, harus ada ens in actu, sebab tidak ada potensi yang dapat direduksi ke aktus kecuali melalui tindakan dari apa yang sudah di dalam aktus; ahirnya harus ada aotua purus, suatu pengada yang merupakan aktus murni, anpa potentialitas apapun, yaitu Allah. Juga bila ada ens mutabile, harus ada ens im mutabila sebab, sebagaimana telah dibuktian oleh aristoteles, gerakan mempunya, sebabgai perinsipnya, pengada yang tak tergerakkan, dan berada demi pengada yang tak tergerakan, yang merupakan sbeab finalnya.
Untuk menunjukan bahwa kesaksian-kesaksian benda ciptaan akan adanya Allah berfungsi sebagai saran bagi jiwa untuk naik kepada Allah,Bonaventura menekankan bahwa dunia inderawi merupakan cermin Allah dan pengetahuan inderawi atau pengetahuan yang diperoleh melalui indera dan refeleksi akan objek-objek inderawi merupakan langkah pertama di dalam tahap-tahap perjalanan jiwa. Tambahan lagi di dalam artikel dari De Mysterio Trinitatis,dia menekankan bahwa eksistensi Allah merupakan kebeneran mutlak yang telah ditanamkan di dalam budi manusia.
Bonaventuro menjelaskan bahwa kebeneran mutlak ini merupakan kesadaran yang samar-samar,merupakan pengetahuan implisit yang sama sekali tidak dapat di sangkal dan bisa menjadi eksplisit serta jelas melalui refleksi batin saja,,meskipun kadang-kadang membutuhkan bantuan dengan refleksi atas dunia inderawi.Pengetahuan implisit ini, misalnya terlukis didalam keinginan kodrati manusia akan kebahagiaan.Tetapi kebahagiaan terletak di dalam pemilihan kebaikan tertinggi, yaitu Allah.Maka setiap manusia menginginkan Allah.Tetapi tidak ada keinginan tanpa pengetahuan sedikitpun.

Sunday, March 16, 2014

BUDAYA



Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.


Definisi dari budaya: Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaianbangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilailogis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

BUDAYA INDONESIA
Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.
  • kebudayaan nasional
kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bagi Masyarakat Pendukungnya, Semarang: P&K, 1995





  • Tarian

Tarian Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. Terdapat lebih dari 700 suku bangsa di Indonesia: dapat terlihat dari akar budaya bangsa Austronesia dan Melanesia, dipengaruhi oleh berbagai budaya dari negeri tetangga di Asia bahkan pengaruh barat yang diserap melalui kolonialisasi. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai tarian khasnya sendiri; Di Indonesia terdapat lebih dari 3000 tarian asli Indonesia. Tradisi kunotarian dan drama dilestarikan di berbagai sanggar dan sekolah seni tari yang dilindungi oleh pihak keraton atau akademi seni yang dijalankan pemerintah.
Untuk keperluan penggolongan, seni tari di Indonesia dapat digolongkan ke dalam berbagai kategori. Dalam kategori sejarah, seni tari Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga era: era kesukuan prasejarah, era Hindu-Buddha, dan era Islam. Berdasarkan pelindung dan pendukungnya, dapat terbagi dalam dua kelompok, tari keraton (tari istana) yang didukung kaum bangsawan, dan tari rakyat yang tumbuh dari rakyat kebanyakan. Berdasarkan tradisinya, tarian Indonesia dibagi dalam dua kelompok; tari tradisional dan tari kontemporer.

  • Musik
Identitas musik Indonesia mulai terbentuk ketika budaya Zaman Perunggu bermigrasi ke Nusantara pada abad ketiga dan kedua Sebelum Masehi. Musik-musik suku tradisional Indonesia umumnya menggunakan instrumen perkusi, terutama gendang dan gong. Beberapa berkembang menjadi musik yang rumit dan berbeda-beda, seperti alat musik petik sasando dari Pulau Roteangklung dari Jawa Barat, dan musik orkestra gamelan yang kompleks dari Jawa danBali
Musik di Indonesia sangat beragam dikarenakan oleh suku-suku di Indonesia yang bermacam-macam, sehingga boleh dikatakan seluruh 17.508 pulaunya memiliki budaya dan seninya sendiri.[3] Indonesia memiliki ribuan jenis musik, kadang-kadang diikuti dengan tarian dan pentas. Musik tradisional yang paling banyak digemari adalah gamelan,angklung dan keroncong, sementara musik modern adalah pop dan dangdut.

SUMBER: 
http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Traditional_indonesian_instruments04.jpg
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya

Sunday, March 9, 2014

Human Realities in the light of Sociology, Anthropology, Philosophical Anthropology, and Psychology

Modernisasi Teori (Adelman) 
• Model penafsiran yang berusaha untuk menjelaskan "perubahan dari waktu ke waktu"-Membagi budaya menjadi "pramodern" (tradisional) dan "modern". Budaya cenderung bergerak dari pramodern dengan karakteristik yang modern. 

Budaya pramodern 
Karakteristik: Stabil,  hirarki paternalistik lokal di kedua keluarga dan masyarakat, Tidak adanya peran khusus, Keluarga dan masyarakat dijalin bersama sehubungan dengan tenaga kerja, waktu luang, dan agama. Ketergantungan pada petunjuk kerja listrik / otot. • Cyclic waktu: masa lalu, sekarang, dan masa depan yang sama. Ritual mengalir melalui seluruh pengalaman budaya, menjelaskan makna hidup.Tidak ada batas antara sekuler dan agama hidup. Tidak ada batas antara pekerjaan dan yang berlaku sikap rekreasi merupakan salah satu penerimaan atau pengunduran diri. 

Budaya Modern
Karakteristik: Dinamis. Cosmopolitan struktur sosial Fungsional: sesuai dengan pergeseran politik dan ekonomi, meritokratis. Sangat khusus. Keluarga dan masyarakat dibagi dengan status sosial-ekonomi, pekerjaan, Waktu Teknologi. Keyakinan bahwa kita rasional. Pemisahan antara gereja dan negara. Batas antara kerja dan waktu luang. Keinginan untuk perubahan dan keyakinan bahwa hal itu dapat dicapai melalui penerapan analisis rasional. 

Pramodern dan modern sport. 
Pramodern organisasinya yang di atur secara langsung maupun tidak langsung. aturan nya tidak tertulis dan masih mengikuti moral tradisional. Contohnya suatu organisasi yang ada di pedesaan mereka tidak formal dan di ketuai oleh ketua desa dan di anggotakan warganya. Sedangkan moder sportnya yang organisainya secara formal, yang di selengarakan dan bisa di cermati oleh organisasi lain. Aturannya, tertulis. 

Industrialisasi / Urbanisasi 
paradigma lain untuk memahami perubahan dalam olahraga waktu ke waktu 
• Views kegiatan rekreasi seseorang tergantung pada hidup pola-Shift dari desa ke kota pola-Pindah dari permainan negara ke permainan kota. 

Sport, Play, Permainan
 • Sport-Dari French de (s) porter dan Latin deportare."Amusing diri"-Modern: Definisi meliputi kompetisi dalam berbagai bentuk • Sebuah definisi kerja olahraga melibatkan  dan permainan 
• Play: setiap nonutilitarian dan autotelic fisik atau intelektual kegiatan-Nonutilitarian-tidak ada motif lain selain untuk berpartisipasi-autotelic-dilakukan untuk kepentingan diri sendiri dan bukan untuk alasan-Bisa terjadi secara spontan atau terorganisir (games)-Sebuah domain yang lebih besar spesifik dari olahraga. 
 • Permainan Suatu kegiatan bermain yang memiliki aturan eksplisit, yang ditentukan atau dipahami gol. . ., Unsur oposisi atau kontes, batas dikenali dalam waktu dan kadang-kadang di ruang angkasa, dan urutan tindakan yang pada dasarnya "berulang" setiap kali permainan ini adalah played.3

Sunday, March 2, 2014

Hasil Wawancara Mengenai Pandangan Masyarakat Awam Mengenai Psikologi, Sosiologi dan Filsafat

Pada hari Kamis tanggal 27 Februari saya dan teman-teman dari kelompok 3 Alohomora mewawancarai dua orang staff dari Binus Univeristy untuk menanyakan apa yang mereka ketahui mengenai Sosiologi, Filsafat/Antropologi dan Psikologi.

Wawancara tersebut bertujuan untuk mengetahui apa pandangan masyarakat awam mengenai hal-hal tersebut. Berikut adalah hasil wawancara yang telah kami simpulkan.




1. Persamaan antara Sosiologi, Filsafat/antropologi dan Psikologi

Ketiga ilmu di atas mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan manusia.

2. Perbedaan

Meskipun sama-sama berpusat pada manusia, ketiga ilmu di atas memiliki ciri masing-masing yang membedakan antara yang satu dengan yang lain. Berikut adalah ciri-ciri tersebut:

Sosiologi: Ilmu ini lebih berfokus pada hubungan dan interaksi antar manusia. Seperti pergaulan sehari-hari dengan orang di sekitar.

Filsafat: Mempelajari tentang cara pandang, cara berpikir, dan cara bersikap akan ilmu. Menanyakan alasan, tujuan, dan asal usul dari sesuatu.

Psikologi: Mempelajar tentang pola pikir dan perilaku manusia.

3. Kesimpulan

Ketiga ilmu sama-sama mempelajari manusia dan meskipun memiliki perbedaan pada fokus dan ruang lingkupnya, ilmu ilmu tersebut masih berkaitan satu sama lain.


Saturday, March 1, 2014

SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI


Manusia sebagai makhluk hidup yang memiliki akal, senantiasa berusaha mengetahui segala sesuatu yang ada di sekitarnya Pada mulanya, semua pengetahuan manusia yang mencakup segala usaha pemikiran mengenai manusia dan alam sekitarnya termasuk masyarakat menjadi satu dalam filsafat. Akan tetapi, sejalan dengan semakin kompleksnya pemikiran manusia, maka terjadilah spesialisasi. Filsafat alam berkembang menjadi berbagai cabang ilmu, seperti astronomi, fisika, kimia, biologi, dan geologi. sedang filsafat kejiwaan dan filsafat social berkembang menjadi psikologi dan sosiologi.


Pada saat sosiologi masih dianggap sebagai ilmu yang bernaung di dalam filsafat dan disebut dengan nama filsafat sosial, materi yang dibahas tidak dapat dikatakan sebagai ilmu sosiologi seperti yang dikenal se-karang. Sebab, pada saat itu materi filsafat sosial masih mengandung unsur etika membahas tentang bagaimana seharusnya masyarakat itu (das solen), sedangkan sosiologi yang berkembang saat ini merupakan ilmu yang membicarakan bagaimana kenyataan yang ada dalam masyarakat (das sein). Beberapa ilmuwan yang mengembangkan filsafat sosial diantaranya adalah Plato (429–347 SM) yang membahas unsur-unsur sosiologi tentang negara dan Aristoteles (384-322 SM) yang membahas unsur-unsur sosiologi dalam hubungannya dengan etika sosial, yakni bagaimana seharusnya tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan sesama manusia ataupun dalam kehidupan sosialnya. Selain kedua ilmuwan itu, Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean Jaques Rousseau juga ikut memberi-kan bentuk pada ilmu yang kemudian disebut sosiologi, dengan pemikiran mereka tentang kontak sosial. Sampai awal tahun 1800-an, konsep pemikiran sosiologi belum dianggap sebagai ilmu pengetahuan. Baru setelah Auguste Comte (1798-1857) menciptakan istilah sosiologi, pada tahun 1839 terhadap keseluruhan pengetahuan manusia mengenai kehidupan bermasyarakat, maka lahirlah sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan. Inilah yang disebut dengan tahap pemikiran awal sosiologi. Comte berpendapat bahwa tingkah laku sosial dan kejadian-kejadian di masyarakat dapat diamati dan diukur secara ilmiah. Comte dianggap sebagai ‘Bapak Sosiologi’ yang memulai kajian sosial dengan metode ilmiah.


Sosiologi kemudian semakin berkembang dengan lahirnya konsep-konsep baru. Satu hal yang paling penting dalam sejarah perkembangan sosiologi adalah munculnya teori determinisme ekonomi yang dikembangkan oleh Friedrich Engels dan Karl Marx. Teori ini menyatakan, bahwa faktor-faktor ekonomi mengontrol semua pola dan institusi di masyarakat. Teori itu banyak dianggap sebagai dasar terbentuknya komunisme. Kemudian, Herbert Spencer mengem-bangkan sistematika penelitian masyarakat dan menyimpulkan, bahwa perkembangan masyarakat manusia adalah suatu proses evolusi yang bertingkat-tingkat dari bentuk yang rendah ke bentuk yang lebih tinggi, seperti evolusi biologis. Sosiologi berkembang dengan pesat pada abad ke-20, terutama di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Arah perkembangan di ketiga negara tersebut berbeda-beda karena perkembangan sosiologi di setiap negara dilatarbelakangi oleh kondisi sosial dan sejarah setempat. Di Prancis, Revolusi Prancis dan akibat-akibatnya merupakan latar belakang historis bagi usaha-usaha Auguste Comte untuk menjelaskan seluruh sejarah mengenai perubahan sosial dan kemajuan, serta gagasan untuk mengorganisasikan kembali masyarakat. Di Inggris, Revolusi industry merusak hubungan sosial tradisional dan menciptakan perpecahan baru dalam struktur sosial. Hal ini merangsang para ahli teori sosial, seperti Herbert Spencer dan Karl Marx untuk mengembangkan penjelasan mengenai masyarakat dan perubahan sosial.

Sosiologi pada zaman Comte dan Herbert Spencer masih dipengaruhi oleh aliran filsafat dan psikologi. Baru ketika Emile Durkheim untuk pertama kalinya menggunakan metode riset ilmiah dalam mengkaji informasi demografi dari berbagai negara, dan mempelajari hubungan antara angka bunuh diri yang ada di negara-negara itu dengan faktor agama dan status perkawinan, maka sosiologi benar-benar lepas dari pengaruh filsafat. Kajian sosiologi kemudian dilanjutkan oleh Max Weber yang menelaah tindakan manusia dan interaksi sosial. Perkembangan sosiologi melalui babak paling dinamis, ketika muncul pemikir-pemikir dari institut penelitian sosial Universitas Frankfurt Jerman yang lebih dikenal dengan Mazhab Frankfurt. Tiga pemikir utama tersebut adalah Max Horkheimer, Theodor. W. Adorno, Herbert Marcuse. Melalui teori kritik yang dikembangkan, Mazhab Frankfurt mencoba menghubungkan pengetahuan dengan praksis kehidupan masyarakat. Lebih rinci, upaya menghubungkan pengetahuan dan praksis diteruskan oleh Jorgen Habermas yang mendasarkan pada paradigma komunikasi melalui media massa. Setelah itu, ada beberapa pemikiran baru tentang sosiologi yang termuka, yaitu difusionisme, fungsionalisme, dan strukturalisme.
a. Difusionisme; menekankan pada pengaruh masyarakat individual saling bergantung dan meyakini, bahwa perubahan sosial terjadi karena sebuah masyarakat menyerap berbagai ciri budaya dari masyarakat lain.

b. Fungsionalisme; memandang masyarakat sebagai suatu jaringan institusi-institusi, seperti perkawinan dan agama, sehingga perubahan dalam suatu institusi menyebabkan perubahan pada institusi lain.

c. Strukturalisme; menekankan struktur sosial sebagai sesuatu yang paling berpengaruh dalam masyarakat, dan berpendapat bahwa peran dan status sosial menentukan tingkah laku manusia.

Selama pertengahan tahun 1900-an, perkembangan sosiologi memasuki tahap modern. Ciri utama sosiologi modern adalah terjadinya spesialisasi terus-menerus pada bidang ilmu ini. Para sosiolog berpindah dari mempelajari kondisi-kondisi sosial secara menyeluruh menuju pengkajian kelompok-kelompok khusus atau tipe-tipe komunitas dalam suatu masyarakat, misalnya para pengelola bisnis, para pembuat rumah, geng-geng di jalanan, perubahan gaya hidup, kondisi sosial, perkembangan budaya, pergerakan pemuda, pergerakan kaum wanita, tingkah laku sosial, dan kelompok-kelompok sosial. Para ahli sosiologi mengembangkan lebih jauh metode riset ilmiah, penerapan metode eksperimen terkontrol, dan menggunakan komputer untuk meningkatkan efisiensi dalam menghitung hasil survei. Cara-cara penentuan sampel penelitian semakin disempurnakan, sehingga mendukung kesimpulan yang makin terpercaya secara ilmiah. Sosiologi lahir di masyarakat barat, sehingga kebanyakan konsepnya berdasarkan realita sosial dari kehidupan masyarakat barat. Pada awalnya, sosiolog Indonesia menjiplak apa adanya pemikiran sosiolog barat, namun setelah disadari, tidak sepenuhnya konsep-konsep barat itu dapat diterapkan di Indonesia. Mulailah kajian sosiologi di Indonesia didasarkan pada realita di Tanah Air. Sejarah perkembangan pemikiran sosiologi di Indonesia dapat dilihat dari pemikiran para pujangga dan pemimpin Indonesia di masa lalu. Salah satunya adalah Wulang Reh karya Sri Paduka Mangkunegoro IV dari Surakarta yang mengajarkan tata hubungan antara anggota masyarakat Jawa yang berasal dari golongan yang berbeda-beda. Tokoh lainnya, Ki Hajar Dewantara, juga menyumbangkan konsep-konsep mengenai kepemimpinan dan kekeluargaan di Indonesia yang dipraktikkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa. Keduanya membuktikan bahwa unsur-unsur sosiologi sudah ada, meskipun tidak murni sosiologi. Persinggungan masyarakat Indonesia dengan dunia barat, terjadi melalui zaman penjajahan Belanda. Pada zaman ini, banyak karya dari sarjana Belanda yang mengambil masyarakat Indonesia sebagai pusat kajiannya, misalnya Snouck Hurgronje, van Vollenhoven, dan Ter Haar yang menulis tentang keadaan social di Indonesia saat itu, walaupun demi kepentingan penjajahan. Sekolah TinggiHukum (Rechtchogeschool) di Jakarta pernah menjadi satu-satunya lembaga perguruan tinggi yang mengajarkan sosiologi di Indonesia sebelum akhirnya dihentikan pada tahun 1934-1935.


Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Prof. Mr. Soenario Kolopaking pertama kali memberikan kuliah sosiologi pada tahun 1948 di Akademi Ilmu Politik Yogyakarta (sekarang menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada). Beliau memberikan kuliah dalam bahasa Indonesia, hal itu merupakan sesuatu yang baru karena sebelumnya kuliah-kuliah diberikan dalam bahasa Belanda. Mulai tahun 1950, semakin banyak masyarakat Indonesia yang mempelajari sosiologi secara khusus sebagai ilmu pengetahuan sehingga tidak hanya menjadikan sosiologi semakin berkembang di Indonesia, tetapi sekaligus membawa perubahan dalam sosiologi di Indonesia.

Buku-buku sosiologi karya orang Indonesia mulai bermunculan. Antara lain, Mr. Djody Gondokusumo menulis Sosiologi Indonesia (1946), Bardosono (1950) menerbitkan diktat sosiologi, dan Hassan Shadily, M.A. menyusun buku berjudul Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia yang memuat bahan-bahan pelajaran sosiologi modern. Kemudian, Major Polak, seorang warga Negara Indonesia bekas Pangreh Praja Belanda yang berkesempatan mempelajari sosiologi di Universitas Leiden di Belanda menerbitkan buku berjudul Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas, dan Pengantar Sosiologi Pengetahuan Hukum dan Politik (1967). Sebelumnya, muncul karya-karya Selo Soemardjan, di antaranya Social Change in Yogyakarta (1962) yang sebenarnya adalah disertasi Selo Soemardjan saat memperoleh gelar doktor dari Cornell University. Isinya tentang perubahan-perubahan sosial di Yogyakarta sebagai akibat revolusi sosial politik pada waktu pusat pemerintahan di Yogyakarta. Selanjutnya, Selo Soemardjan bekerja sama dengan Soelaeman Soemardi menulis buku berjudul Setangkai Bunga Sosiologi (1964). Saat ini semakin banyak sumber belajar sosiologi, bahkan telah ada sejumlah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik yang memiliki jurusan sosiologi, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sebelas Maret, Universitas Hassanudin, dan Universitas Andalas. Dari jurusan sosiologi itu, diharapkan sumbangan dan dorongan lebih besar untuk mempercepat dan memperluas perkembangan sosiologi di Indonesia untuk kepentingan masyarakat, karena sosiologi sangat diperlukan apabila seseorang ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat, yang selanjutnya dapat dipakai untuk membuat kebijakan yang tepat bagi perkembangan masyarakat.