Manusia sebagai makhluk hidup yang memiliki akal,
senantiasa berusaha mengetahui segala sesuatu yang ada di sekitarnya Pada
mulanya, semua pengetahuan manusia yang mencakup segala usaha pemikiran
mengenai manusia dan alam sekitarnya termasuk masyarakat menjadi satu dalam
filsafat. Akan tetapi, sejalan dengan semakin kompleksnya pemikiran manusia,
maka terjadilah spesialisasi. Filsafat alam berkembang menjadi berbagai cabang
ilmu, seperti astronomi, fisika, kimia, biologi, dan geologi. sedang filsafat
kejiwaan dan filsafat social berkembang menjadi psikologi dan sosiologi.
Pada
saat sosiologi masih dianggap sebagai ilmu yang bernaung di dalam filsafat dan
disebut dengan nama filsafat sosial, materi yang dibahas tidak dapat dikatakan
sebagai ilmu sosiologi seperti yang dikenal se-karang. Sebab, pada saat itu
materi filsafat sosial masih mengandung unsur etika membahas tentang bagaimana
seharusnya masyarakat itu (das solen), sedangkan sosiologi yang berkembang saat
ini merupakan ilmu yang membicarakan bagaimana kenyataan yang ada dalam
masyarakat (das sein). Beberapa ilmuwan yang mengembangkan filsafat sosial
diantaranya adalah Plato (429–347 SM) yang membahas unsur-unsur sosiologi
tentang negara dan Aristoteles (384-322 SM) yang membahas unsur-unsur sosiologi
dalam hubungannya dengan etika sosial, yakni bagaimana seharusnya tingkah laku
manusia dalam berhubungan dengan sesama manusia ataupun dalam kehidupan
sosialnya. Selain kedua ilmuwan itu, Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean Jaques
Rousseau juga ikut memberi-kan bentuk pada ilmu yang kemudian disebut
sosiologi, dengan pemikiran mereka tentang kontak sosial. Sampai awal tahun
1800-an, konsep pemikiran sosiologi belum dianggap sebagai ilmu pengetahuan.
Baru setelah Auguste Comte (1798-1857) menciptakan istilah sosiologi, pada
tahun 1839 terhadap keseluruhan pengetahuan manusia mengenai kehidupan
bermasyarakat, maka lahirlah sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan. Inilah
yang disebut dengan tahap pemikiran awal sosiologi. Comte berpendapat bahwa
tingkah laku sosial dan kejadian-kejadian di masyarakat dapat diamati dan
diukur secara ilmiah. Comte dianggap sebagai ‘Bapak Sosiologi’ yang memulai
kajian sosial dengan metode ilmiah.
Sosiologi
kemudian semakin berkembang dengan lahirnya konsep-konsep baru. Satu hal yang
paling penting dalam sejarah perkembangan sosiologi adalah munculnya teori
determinisme ekonomi yang dikembangkan oleh Friedrich Engels dan Karl Marx.
Teori ini menyatakan, bahwa faktor-faktor ekonomi mengontrol semua pola dan
institusi di masyarakat. Teori itu banyak dianggap sebagai dasar terbentuknya
komunisme. Kemudian, Herbert Spencer mengem-bangkan sistematika penelitian
masyarakat dan menyimpulkan, bahwa perkembangan masyarakat manusia adalah suatu
proses evolusi yang bertingkat-tingkat dari bentuk yang rendah ke bentuk yang
lebih tinggi, seperti evolusi biologis. Sosiologi berkembang dengan pesat pada
abad ke-20, terutama di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Arah perkembangan
di ketiga negara tersebut berbeda-beda karena perkembangan sosiologi di setiap
negara dilatarbelakangi oleh kondisi sosial dan sejarah setempat. Di Prancis,
Revolusi Prancis dan akibat-akibatnya merupakan latar belakang historis bagi
usaha-usaha Auguste Comte untuk menjelaskan seluruh sejarah mengenai perubahan
sosial dan kemajuan, serta gagasan untuk mengorganisasikan kembali masyarakat.
Di Inggris, Revolusi industry merusak hubungan sosial tradisional dan
menciptakan perpecahan baru dalam struktur sosial. Hal ini merangsang para ahli
teori sosial, seperti Herbert Spencer dan Karl Marx untuk mengembangkan
penjelasan mengenai masyarakat dan perubahan sosial.
Sosiologi
pada zaman Comte dan Herbert Spencer masih dipengaruhi oleh aliran filsafat dan
psikologi. Baru ketika Emile Durkheim untuk pertama kalinya menggunakan metode
riset ilmiah dalam mengkaji informasi demografi dari berbagai negara, dan
mempelajari hubungan antara angka bunuh diri yang ada di negara-negara itu
dengan faktor agama dan status perkawinan, maka sosiologi benar-benar lepas
dari pengaruh filsafat. Kajian sosiologi kemudian dilanjutkan oleh Max Weber
yang menelaah tindakan manusia dan interaksi sosial. Perkembangan sosiologi
melalui babak paling dinamis, ketika muncul pemikir-pemikir dari institut
penelitian sosial Universitas Frankfurt Jerman yang lebih dikenal dengan Mazhab
Frankfurt. Tiga pemikir utama tersebut adalah Max Horkheimer, Theodor. W.
Adorno, Herbert Marcuse. Melalui teori kritik yang dikembangkan, Mazhab
Frankfurt mencoba menghubungkan pengetahuan dengan praksis kehidupan
masyarakat. Lebih rinci, upaya menghubungkan pengetahuan dan praksis diteruskan
oleh Jorgen Habermas yang mendasarkan pada paradigma komunikasi melalui media
massa. Setelah itu, ada beberapa pemikiran baru tentang sosiologi yang termuka,
yaitu difusionisme, fungsionalisme, dan strukturalisme.
a.
Difusionisme; menekankan pada pengaruh masyarakat individual saling bergantung
dan meyakini, bahwa perubahan sosial terjadi karena sebuah masyarakat menyerap
berbagai ciri budaya dari masyarakat lain.
b.
Fungsionalisme; memandang masyarakat sebagai suatu jaringan
institusi-institusi, seperti perkawinan dan agama, sehingga perubahan dalam suatu
institusi menyebabkan perubahan pada institusi lain.
c.
Strukturalisme; menekankan struktur sosial sebagai sesuatu yang paling
berpengaruh dalam masyarakat, dan berpendapat bahwa peran dan status sosial
menentukan tingkah laku manusia.
Selama
pertengahan tahun 1900-an, perkembangan sosiologi memasuki tahap modern. Ciri
utama sosiologi modern adalah terjadinya spesialisasi terus-menerus pada bidang
ilmu ini. Para sosiolog berpindah dari mempelajari kondisi-kondisi sosial
secara menyeluruh menuju pengkajian kelompok-kelompok khusus atau tipe-tipe
komunitas dalam suatu masyarakat, misalnya para pengelola bisnis, para pembuat
rumah, geng-geng di jalanan, perubahan gaya hidup, kondisi sosial, perkembangan
budaya, pergerakan pemuda, pergerakan kaum wanita, tingkah laku sosial, dan
kelompok-kelompok sosial. Para ahli sosiologi mengembangkan lebih jauh metode
riset ilmiah, penerapan metode eksperimen terkontrol, dan menggunakan komputer
untuk meningkatkan efisiensi dalam menghitung hasil survei. Cara-cara penentuan
sampel penelitian semakin disempurnakan, sehingga mendukung kesimpulan yang
makin terpercaya secara ilmiah. Sosiologi lahir di masyarakat barat, sehingga
kebanyakan konsepnya berdasarkan realita sosial dari kehidupan masyarakat
barat. Pada awalnya, sosiolog Indonesia menjiplak apa adanya pemikiran sosiolog
barat, namun setelah disadari, tidak sepenuhnya konsep-konsep barat itu dapat
diterapkan di Indonesia. Mulailah kajian sosiologi di Indonesia didasarkan pada
realita di Tanah Air. Sejarah perkembangan pemikiran sosiologi di Indonesia
dapat dilihat dari pemikiran para pujangga dan pemimpin Indonesia di masa lalu.
Salah satunya adalah Wulang Reh karya Sri Paduka Mangkunegoro IV dari Surakarta
yang mengajarkan tata hubungan antara anggota masyarakat Jawa yang berasal dari
golongan yang berbeda-beda. Tokoh lainnya, Ki Hajar Dewantara, juga
menyumbangkan konsep-konsep mengenai kepemimpinan dan kekeluargaan di Indonesia
yang dipraktikkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa. Keduanya membuktikan
bahwa unsur-unsur sosiologi sudah ada, meskipun tidak murni sosiologi.
Persinggungan masyarakat Indonesia dengan dunia barat, terjadi melalui zaman
penjajahan Belanda. Pada zaman ini, banyak karya dari sarjana Belanda yang
mengambil masyarakat Indonesia sebagai pusat kajiannya, misalnya Snouck
Hurgronje, van Vollenhoven, dan Ter Haar yang menulis tentang keadaan social di
Indonesia saat itu, walaupun demi kepentingan penjajahan. Sekolah TinggiHukum
(Rechtchogeschool) di Jakarta pernah menjadi satu-satunya lembaga perguruan
tinggi yang mengajarkan sosiologi di Indonesia sebelum akhirnya dihentikan pada
tahun 1934-1935.
Sesudah
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Prof. Mr. Soenario Kolopaking pertama
kali memberikan kuliah sosiologi pada tahun 1948 di Akademi Ilmu Politik
Yogyakarta (sekarang menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas
Gadjah Mada). Beliau memberikan kuliah dalam bahasa Indonesia, hal itu
merupakan sesuatu yang baru karena sebelumnya kuliah-kuliah diberikan dalam
bahasa Belanda. Mulai tahun 1950, semakin banyak masyarakat Indonesia yang
mempelajari sosiologi secara khusus sebagai ilmu pengetahuan sehingga tidak
hanya menjadikan sosiologi semakin berkembang di Indonesia, tetapi sekaligus
membawa perubahan dalam sosiologi di Indonesia.
Buku-buku
sosiologi karya orang Indonesia mulai bermunculan. Antara lain, Mr. Djody
Gondokusumo menulis Sosiologi Indonesia (1946), Bardosono (1950) menerbitkan
diktat sosiologi, dan Hassan Shadily, M.A. menyusun buku berjudul Sosiologi
untuk Masyarakat Indonesia yang memuat bahan-bahan pelajaran sosiologi modern.
Kemudian, Major Polak, seorang warga Negara Indonesia bekas Pangreh Praja
Belanda yang berkesempatan mempelajari sosiologi di Universitas Leiden di
Belanda menerbitkan buku berjudul Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas, dan
Pengantar Sosiologi Pengetahuan Hukum dan Politik (1967). Sebelumnya, muncul
karya-karya Selo Soemardjan, di antaranya Social Change in Yogyakarta (1962)
yang sebenarnya adalah disertasi Selo Soemardjan saat memperoleh gelar doktor
dari Cornell University. Isinya tentang perubahan-perubahan sosial di
Yogyakarta sebagai akibat revolusi sosial politik pada waktu pusat pemerintahan
di Yogyakarta. Selanjutnya, Selo Soemardjan bekerja sama dengan Soelaeman
Soemardi menulis buku berjudul Setangkai Bunga Sosiologi (1964). Saat ini
semakin banyak sumber belajar sosiologi, bahkan telah ada sejumlah Fakultas
Ilmu Sosial dan Politik yang memiliki jurusan sosiologi, seperti Universitas
Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas
Diponegoro, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sebelas Maret,
Universitas Hassanudin, dan Universitas Andalas. Dari jurusan sosiologi itu,
diharapkan sumbangan dan dorongan lebih besar untuk mempercepat dan memperluas
perkembangan sosiologi di Indonesia untuk kepentingan masyarakat, karena
sosiologi sangat diperlukan apabila seseorang ingin mengetahui apa yang
sebenarnya terjadi di masyarakat, yang selanjutnya dapat dipakai untuk membuat
kebijakan yang tepat bagi perkembangan masyarakat.




No comments:
Post a Comment